KERAGAMAN LILIT BATANG TBM 3 SEBAGAI INDIKATOR POTENSI PENCAPAIAN MATANG SADAP DI PERKEBUNAN KARET SUMATERA UTARA

Authors

  • Priyo Adi Nugroho Pusat Penelitian Karet
  • Sarifah Aini ASARIBU
  • Cici Indriani DALIMUNTHE
  • Mochlisin ANDRIYANTO

DOI:

https://doi.org/10.22302/ppk.jpk.v44i1.1158

Keywords:

Hevea brasiliensis, keragaman, proyeksi

Abstract

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keragaman lilit batang (LB) tanaman karet pada tahun ketiga masa tanaman belum menghasilkan (TBM 3) dengan distribusi ukuran LB pada TBM 5 serta potensi pencapaian matang sadap pada umur 60 bulan. Penelitian dilakukan dengan metode survei pada perkebunan karet seluas 3.291 ha yang terdiri atas 43 blok dan tersebar di beberapa wilayah Sumatera Utara dan Aceh Timur. Data LB diukur pada ketinggian 100 cm dari permukaan tanah pada umur 32 bulan (TBM 3) dan 56 bulan (TBM 5). Pada TBM 3, keragaman pertumbuhan dinyatakan sebagai koefisien keragaman (KK), sedangkan pada TBM 5 tanaman dikelompokkan berdasarkan kelas LB <35 cm, 35–39 cm, 40–44 cm, dan ≥45 cm. Analisis data meliputi statistik deskriptif, korelasi Pearson, dan regresi linier sederhana menggunakan Microsoft Excel 365. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KK LB TBM 3 berkorelasi positif dan nyata (p<0,05) dengan persentase tanaman berukuran LB <35 cm pada TBM 5, serta berkorelasi negatif dan nyata (p<0,05) dengan persentase tanaman berukuran LB 40–44 cm dan ≥45 cm. Hubungan KK LB TBM 3 dengan potensi tanaman mencapai LB ≥45 cm pada umur 60 bulan bersifat negatif dan sangat nyata (p<0,001), dengan persamaan TP = 100,76 − 1,987 KK dan R² = 0,36. Model menunjukkan bahwa setiap peningkatan KK sebesar 1 poin persentase berkaitan dengan penurunan potensi tanaman matang sadap sebesar 1,987 poin persentase. Hasil ini menunjukkan bahwa evaluasi keragaman LB pada TBM 3 dapat digunakan sebagai salah satu indikator awal untuk mengidentifikasi blok yang berpotensi memiliki pencapaian matang sadap yang lebih rendah pada umur 60 bulan. Pemeliharaan keseragaman melalui pemupukan yang tepat, penyisipan tepat waktu, perbaikan drainase, dan pengendalian penyakit tetap diperlukan untuk mendukung pencapaian matang sadap yang seragam.

References

DAFTAR PUSTAKA

Adiwiganda, Y. T., Hardjono, A., Manurung, A., Sihotang, U. T. B., Sudiharto, Goenadi, D. H., & Sihombing, H. (1994). Teknik Penyusunan Rekomendasi Pemupukan Tanaman Karet. In Forum Komunikasi Karet (pp. 1-17.). Pusat Penelitian Karet-Asosiasi Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia (AP3I).

Aidi-Daslin, Suhendy, I., & Azwar, R. (2000). Growth characteristic and yield performance of recommended rubber clones in commercial plantings. In R. Azwar, Karyudi, G. Wibawa, H. Suryaningtyas, R. Arizal, S. Honggokusumo, D. Suparto, M. Supriadi, C. Anwar, & A.-D. Suwana (Eds.), Indonesian Rubber Conference and IRRDB Symposium (pp. 150–158). Indonesia Rubber Research Institute.

Asri, C. P., Bahri, S., & Dalimunthe, C. I. (2024). Aplikasi jenis dan dosis isolat Trichoderma sp. dalam menekan jamur akar putih pada bibit batang bawah tanaman karet (Hevea brasiliensis muell. Arg.). Agrium, 21(1), 1–15.

BPSP. (2017). Laporan Pengelolaan Bibitan dan Pengawalan TBM Karet PT. Perkebunan Nusantara III (persero) . Balai Penelitian Sungei Putih.

Carr, M. K. V. (2012). The water relations of rubber (Hevea brasiliensis): A review. In Experimental Agriculture (Vol. 48, Number 2, pp. 176–193).

https://doi.org/10.1017/S0014479711000901

Dalimunthe, C. I., Soekarno, B. P., Munif, A., & Surono, S. (2019). Seleksi dan uji potensi cendawan Dark Septate Endophyte sebagai agensia hayati penyakit jamur akar putih (Rigidoporus microporus) pada tanaman karet. Jurnal Penelitian Karet, 11–20. https://doi.org/10.22302/ppk.jpk.v37i1.624

Dalimunthe, C. I., & Tistama, R. (2018). Potensi Asap Cair Dalam Mengendalikan Penyakit Jamur Akar Putih (Rigidoporus microporus) Pada Tanaman Karet. Talenta Conference Series: Agricultural and Natural Resources (ANR), 1(1), 105–109. https://doi.org/10.32734/anr.v1i1.128

Istianto. (2006). Daur hara di perkebunan karet dan pemupukan tanaman karet menggunakan PUKALET. Warta Perkaretan, 25(1), 50–61.

Istianto, & Munthe, H. (2006). Upaya meningkatkan keseragaman tanaman karet belum menghasilkan dengan pemupukan ekstra. In Sumarmadji, N. Siagian, S. Aidi_Daslin, Istianto, T. Kustyanti, & I. Suhendry (Eds.), Pros. Lok. Nas. Budidaya Tanaman Karet 2006. Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet.

Microsoft Corporation. (2021). Microsoft Excel 365, Redmond, Washington.

Nattharom, N., Roongtawanreongsri, S., & Bumrungsri, S. (2020). Growth prediction for rubber tree and intercropped forest trees to facilitate environmental services valuation in South Thailand. Biodiversitas, 21(5), 2019–2034.https://doi.org/10.13057/biodiv/d210528

Nugroho, P. A., Istianto, & Karyudi. (2007). Metode peningkatan keseragaman tanaman karet belum menghasilkan. Warta Perkaretan, 26(2), 10–19.

Nugroho, P. A., & Sembiring, Y. R. V. (2020). Pengaruh pupuk masjemuk tablet terhadap pertumbuhan lilit batang dan hara daun tanaman karet. Al-Kauniyah: Jurnal Biologi. https://doi.org/10.15408/kauniyah.v13i1.12768

Nugroho, P. A., & Wijaya, T. (2017). Leaf nutrient status of rubber tree in differrent ecology zone of north sumatra. In K. Jacob, A. bin Ibrahim, A. M. Kamarudin, E. Gohet, J. Mathew, L. Rodrigo, D. Kim, & C. K. See (Eds.), Proceedings International Rubber Conference (pp. 774–785). http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/proc/article/view/501

Obouayeba, S., Boa, D., Gohet, E., Dian, K., Ouattara, N., & Kelly, Z. J. (2000). Dynamics of vegetative growth of Hevea brasiliensis in determining tapping norms. Journal of Rubber Research, 3(1), 53–62.

Pimentel-Gomes, F. (2009). Curso de Estatística Experimental (15th ed.). FEALQ.

Rouf, A., Setiono, & Santosa, A. (2013). Urgensi sensus lilit batang sejak TBM 1 sebagai strategi meningkatkan keragaan dan keseragaman tanaman karet. Warta Perkaretan, 32(2), 95–104.

Sarwono, J. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif (2nd ed.). Suluh Media. Yogyakarta.

Setyawan, B., Pawirosoemardjo, S., & Hananto, H. (2013). Biofungisida Triko Combi sebagai salah satu pengendali jamur akar putih pada tanaman karet. Warta Perkaretan, 32(2), 83–94.

Siagian, N. (1995). Upaya mempertahankan kerapatan tanaman karet. Warta Perkaretan, 14(1), 53–61.

Siagian, N., & Siregar, T. H. S. (2013). Evaluasi produktivitas tanaman karet dengan sistem tanam ganda pada skala komersial. Warta Perkaretan, 32(1), 16–24.

Siregar, M., Sihotang, U., & Siahaan, D. (1981). Masalah pemupukan karet di wilayah I. Berkala Penelitian, 6, 38–79.

Sugiyanto, Y., Sihombing, H., & Darmandono. (1998). Pemetaan agroklimat dan tingkat kesesuaian lahan perkebunan karet. In R. Anwar, I. Suhendry, Aidi-Daslin, & M. Lasminingsih (Eds.), Prosiding Konferensi Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 1998 dan Diskusi Nasional tentang Prospek Karet Alam di Abad 21. Pusat Penelitian Karet.

Suhendry, I., Sugiyanto, Y., & Aidi-Daslin. (1998). Kajian keragaman pertumbuhan tanaman berkaitan dengan peningkatan produktivitas kebun karet. Warta Pusat Penelitian Karet, 17(1–3), 30–41.

Ukalska, J., & Jastrz?bowski, S. (2019). Sigmoid growth curves, a new approach to study the dynamics of the epicotyl emergence of oak. Folia Forestalia Polonica, Series A, 61(1), 30–41.

https://doi.org/10.2478/ffp-2019-0003

Zahary-Husni, & Sunarwidi. (1989). Peningkatan keseragaman tanaman karet di lapangan. Warta Perkaretan, 8(1), 2–4.

Downloads

Published

2026-06-30

How to Cite

Nugroho, P. A., ASARIBU, S. A., DALIMUNTHE, C. I., & ANDRIYANTO, M. . (2026). KERAGAMAN LILIT BATANG TBM 3 SEBAGAI INDIKATOR POTENSI PENCAPAIAN MATANG SADAP DI PERKEBUNAN KARET SUMATERA UTARA . Jurnal Penelitian Karet, 44(1), 27–36. https://doi.org/10.22302/ppk.jpk.v44i1.1158

Issue

Section

Original Research Article